Minggu, 25 Oktober 2015

Cerita dari Kota Asap



Nak, ini cerita tentang kota kelahiranmu…

Aku menulis ini saat musim kabut asap tiba di kota kita, saat di mana banyak wajah tersembunyi di balik masker, saat di mana udara begitu jelek dan tak layak untuk dihirup.

Waktu seolah begitu cepat berjalan karena rasanya baru saja aku menulis keluh kesah tentang kabut asap saat aku mengandungmu tahun lalu.

Aku begitu takut karena kabut asap sangat berbahaya bagi ibu hamil selain bayi dan anak—anak. Setiap hari aku berupaya agar terhindar dari asap karena meski kau berada di dalam tubuhku tidak menjamin kau tidak akan terdampak dari udara yang kuhisap.



Ternyata, ketakutanku masih berlanjut, sekarang kau rawan terpapar asap. Aku terpaksa membatasi ruang gerakmu, maafkan aku jika tak mengajakmu melakukan hal-hal seru di luar sana. Untung saja kau belum paham betul rasa bosan berdiam diri di rumah.
 
Biasanya kabut asap akan berlangsung selama dua bulan bergantung pada musim hujan tiba, maklum nak kekuatan pesawat bom air dari negara manapun, hujan buatan hingga tabur garam terkadang tak mempan mengusir asap agar tak mengudara lagi.

Tapi tidak untuk tahun ini, asap tak kunjung hilang karena ada fenomena el nino yang berdampak pada musim kemarau jadi lebih panjang.



Ah, aku sungguh rindu bau rumput basah sehabis hujan. Aku menghitung, ini bulan ketiga kita masih bernafas dengan partikel udara yang berbahaya nak.

Kau tahu, bencana asap tahun ini juga telah menelan korban jiwa, ada bayi yang lebih muda usianya darimu, bahkan belum juga genap satu bulan dia harus meregang nyawa karena penyakit paru-parunya diperparah asap yang menyatu dalam udara yang ia hirup setiap hari.
 
Aku pun hingga detik ini masih merisaukan kesehatanmu, aku tak ingin kau batuk pilek lagi karena asap. Tapi sekuat apapun dayaku, serapat apapun pintu dan jendela rumah kututup, asap tetap menjalar nak hingga  penyakit batuk,pilek serta demam sempat menjangkitimu.

Dalam hati aku mengutuk pelaku pembakaran dan negara ini.

Aku terngiang masa kecil dan remajaku di kota ini,  rasanya aku tak punya kenangan melihat langit tertutup asap pekat saat musim kemarau tiba pada masa itu.

Kota ini memang memiliki udara yang panas, apalagi bila kemarau tiba, sehingga aku sempat berandai-andai di bangku SMP ingin merantau ke Pulau Jawa saat kuliah nanti, mencari kota yang lebih sejuk dan dingin, seperti Bandung.

Aku tak akan menghalangi jika nanti kau pun bermimpi serupa denganku setelah kau membaca tulisan ini, hengkang dari kota kelahiranmu. Mungkin saat itu kau berpikir sama sepertiku dulu, apa lagi yang bisa kuharapkan dari kota ini? Semua penunjang aktualisasi diri serba kering; seni, budaya dan hiburan karena sudah terpusat di gedung-gedung mal yang bakal bertambah seiring kemajuan kota ini, sungguh monoton.

Dan jika asap terus datang saban tahun hingga kau dewasa nanti mungkin akan menjadi alasan utamamu untuk hijrah entah kemana.

Aku tidak ingin kau seperti kodok yang dicemplungkan dalam panci berisi air hangat. Perumpaan itu aku ambil dari novel yang baru saja kubaca sampai tamat setelah lebih dari setahun tertunda.

Penulisnya bilang kodok mudah beradaptasi hingga ancaman jiwa pun menjadi lumrah, ia gampang membiasakan diri dengan suhu air, ketika air dihangatkan ia hanya kaget sebentar dan terbiasa sehingga tak sadar mati ketika air telah mendidih.

Mungkin, sebagian dari kami yang sudah dewasa dan puluhan tahun tinggal di kota ini ada yang seperti si kodok.

Kami sudah terbiasa dengan asap, sehingga seringkali pula abai melindungi diri dengan cara paling sederhana, menutup hidung. Apalagi, asap adalah alat pembunuh yang berbeda dengan air mendidih; ia mematikan secara lebih pelan,tak terasa dan tanpa menimbulkan luka.

Temanku yang berasal dari kota lain sempat heran begitu menginjakkan kakinya di kota ini beberapa minggu lalu, ia menjumpai banyak warga yang tidak mengenakan masker di tengah kepungan asap. Andai saja dia hidup di sini selama satu bulan mungkin dia akan tahu jawabannya.

Nak, asal kau tahu, asap yang menutupi birunya langit bahkan kelip bintang pada malam hari itu bukanlah bencana alam.

Asap membumbung hingga ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, akibat ulah manusia, iya segelintir manusia yang tidak bisa menjaga alam. Alam tidak salah. Ya betul, lahan gambut yang banyak terdapat di tanah kelahiranmu ini memang mudah terbakar tetapi tindakan kita, manusia, yang semakin menyulut api berkobar di lahan itu.

Kerakusan, ketidakpuasan, kebodohan manusia yang menyebabkan banyak lahan dan hutan terbakar. Bahkan pemerintah, yang seharusnya melindungi warga pun tampaknya lebih bodoh dari keledai karena tak pernah bisa mengantisipasi kebakaran sehingga asap datang terus setiap tahun.

Nak, jika aku tak bisa menggantungkan harapan kepada pemerintah ataupun pemilik lahan yang sering membakar itu, mungkin aku bisa berharap kepadamu.

Aku menulis ini agar kau memahami bahwa kabut asap di kota kelahiranmu ini lebih dari sebuah teror dan mimpi buruk karena sudah membunuh manusia dan menutupi celah kebahagiaan warga.

Semoga kelak kau dan generasimu dapat menyelamatkan kota ini dan membuat kabut asap menjadi sejarah yang tak perlu berulang.

Peluk cium,
Ibu yang mendambakan kau selalu sehat.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar