Minggu, 25 Oktober 2015

Cerita dari Kota Asap



Nak, ini cerita tentang kota kelahiranmu…

Aku menulis ini saat musim kabut asap tiba di kota kita, saat di mana banyak wajah tersembunyi di balik masker, saat di mana udara begitu jelek dan tak layak untuk dihirup.

Waktu seolah begitu cepat berjalan karena rasanya baru saja aku menulis keluh kesah tentang kabut asap saat aku mengandungmu tahun lalu.

Aku begitu takut karena kabut asap sangat berbahaya bagi ibu hamil selain bayi dan anak—anak. Setiap hari aku berupaya agar terhindar dari asap karena meski kau berada di dalam tubuhku tidak menjamin kau tidak akan terdampak dari udara yang kuhisap.



Ternyata, ketakutanku masih berlanjut, sekarang kau rawan terpapar asap. Aku terpaksa membatasi ruang gerakmu, maafkan aku jika tak mengajakmu melakukan hal-hal seru di luar sana. Untung saja kau belum paham betul rasa bosan berdiam diri di rumah.
 
Biasanya kabut asap akan berlangsung selama dua bulan bergantung pada musim hujan tiba, maklum nak kekuatan pesawat bom air dari negara manapun, hujan buatan hingga tabur garam terkadang tak mempan mengusir asap agar tak mengudara lagi.

Tapi tidak untuk tahun ini, asap tak kunjung hilang karena ada fenomena el nino yang berdampak pada musim kemarau jadi lebih panjang.



Ah, aku sungguh rindu bau rumput basah sehabis hujan. Aku menghitung, ini bulan ketiga kita masih bernafas dengan partikel udara yang berbahaya nak.

Kau tahu, bencana asap tahun ini juga telah menelan korban jiwa, ada bayi yang lebih muda usianya darimu, bahkan belum juga genap satu bulan dia harus meregang nyawa karena penyakit paru-parunya diperparah asap yang menyatu dalam udara yang ia hirup setiap hari.
 
Aku pun hingga detik ini masih merisaukan kesehatanmu, aku tak ingin kau batuk pilek lagi karena asap. Tapi sekuat apapun dayaku, serapat apapun pintu dan jendela rumah kututup, asap tetap menjalar nak hingga  penyakit batuk,pilek serta demam sempat menjangkitimu.

Dalam hati aku mengutuk pelaku pembakaran dan negara ini.

Aku terngiang masa kecil dan remajaku di kota ini,  rasanya aku tak punya kenangan melihat langit tertutup asap pekat saat musim kemarau tiba pada masa itu.

Kota ini memang memiliki udara yang panas, apalagi bila kemarau tiba, sehingga aku sempat berandai-andai di bangku SMP ingin merantau ke Pulau Jawa saat kuliah nanti, mencari kota yang lebih sejuk dan dingin, seperti Bandung.

Aku tak akan menghalangi jika nanti kau pun bermimpi serupa denganku setelah kau membaca tulisan ini, hengkang dari kota kelahiranmu. Mungkin saat itu kau berpikir sama sepertiku dulu, apa lagi yang bisa kuharapkan dari kota ini? Semua penunjang aktualisasi diri serba kering; seni, budaya dan hiburan karena sudah terpusat di gedung-gedung mal yang bakal bertambah seiring kemajuan kota ini, sungguh monoton.

Dan jika asap terus datang saban tahun hingga kau dewasa nanti mungkin akan menjadi alasan utamamu untuk hijrah entah kemana.

Aku tidak ingin kau seperti kodok yang dicemplungkan dalam panci berisi air hangat. Perumpaan itu aku ambil dari novel yang baru saja kubaca sampai tamat setelah lebih dari setahun tertunda.

Penulisnya bilang kodok mudah beradaptasi hingga ancaman jiwa pun menjadi lumrah, ia gampang membiasakan diri dengan suhu air, ketika air dihangatkan ia hanya kaget sebentar dan terbiasa sehingga tak sadar mati ketika air telah mendidih.

Mungkin, sebagian dari kami yang sudah dewasa dan puluhan tahun tinggal di kota ini ada yang seperti si kodok.

Kami sudah terbiasa dengan asap, sehingga seringkali pula abai melindungi diri dengan cara paling sederhana, menutup hidung. Apalagi, asap adalah alat pembunuh yang berbeda dengan air mendidih; ia mematikan secara lebih pelan,tak terasa dan tanpa menimbulkan luka.

Temanku yang berasal dari kota lain sempat heran begitu menginjakkan kakinya di kota ini beberapa minggu lalu, ia menjumpai banyak warga yang tidak mengenakan masker di tengah kepungan asap. Andai saja dia hidup di sini selama satu bulan mungkin dia akan tahu jawabannya.

Nak, asal kau tahu, asap yang menutupi birunya langit bahkan kelip bintang pada malam hari itu bukanlah bencana alam.

Asap membumbung hingga ke negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, akibat ulah manusia, iya segelintir manusia yang tidak bisa menjaga alam. Alam tidak salah. Ya betul, lahan gambut yang banyak terdapat di tanah kelahiranmu ini memang mudah terbakar tetapi tindakan kita, manusia, yang semakin menyulut api berkobar di lahan itu.

Kerakusan, ketidakpuasan, kebodohan manusia yang menyebabkan banyak lahan dan hutan terbakar. Bahkan pemerintah, yang seharusnya melindungi warga pun tampaknya lebih bodoh dari keledai karena tak pernah bisa mengantisipasi kebakaran sehingga asap datang terus setiap tahun.

Nak, jika aku tak bisa menggantungkan harapan kepada pemerintah ataupun pemilik lahan yang sering membakar itu, mungkin aku bisa berharap kepadamu.

Aku menulis ini agar kau memahami bahwa kabut asap di kota kelahiranmu ini lebih dari sebuah teror dan mimpi buruk karena sudah membunuh manusia dan menutupi celah kebahagiaan warga.

Semoga kelak kau dan generasimu dapat menyelamatkan kota ini dan membuat kabut asap menjadi sejarah yang tak perlu berulang.

Peluk cium,
Ibu yang mendambakan kau selalu sehat.


Minggu, 26 April 2015

Surat Untuk Anakku



29/01/15

Pagi itu kusampaikan kabar bahagia ke telinga abahmu, ayo bangun mau jadi bapak gak?
Lantas dia beranjak kaget saat terbangun dan melihat tanganku memegang test pack dengan dua garis merah.

Iya aku hamil, dan hari-hari kami berubah sejak pagi itu.

Ada semacam harapan, kebahagiaan,  serta ketakutan selama aku mengandungmu. Kau tahu, aku sempat mengalami kehilangan saat hamil pertama, di mana rasanya seperti mimpi saja karena begitu cepat janin itu lenyap dari rahimku bahkan sebelum jantungnya berdetak.

Kehilangan itu pula yang membuatku begitu hati-hati saat aku mengandungmu. Aku tak ingin  mengalaminya untuk kedua kali.

Tiada kata untuk mengungkapkan kelegaan dan gembira saat melihat kau telah menjadi embrio, lalu mendengar detak jantungmu, dan melihat perkembangan lain dari tubuhmu di rahimku. Apalagi saat tahu bahwa kau adalah anak lelaki. Oh rasanya seperti jatuh cinta.



Iya, aku bisa menggambarkan padamu rasa jatuh cinta itu seperti apa.

Mulanya kau akan merasa desiran di dada dan semakin kau membayangkan sosok yang membuatmu jatuh cinta itu desiran itu menjalar ke setiap bagian tubuhmu hingga akhirnya mampu membuattmu tersenyum bahagia.

Ah kelak kau akan merasakannya sendiri, telingaku akan selalu sedia mendengar kisah cintamu.

Dan kau tahu, aku mencintaimu sejak aku belum melihatmu, menyentuhmu, memelukmu dan merawatmu. Aku percaya cinta ini pun tak akan pudar oleh apapun.

Anakku sayang...

Aku menulis surat ini di minggu terakhir aku mengandungmu, tepatnya di rumah sakit, saat menunggu nyeri, mulas dan segala rasa sakit yang mulai datang drngan cepat...

***

26/4/15

Surat ini ternyata belum selesai kutulis, terhenti karena sakit akibat induksi yang diberi dokter. Aku tak sanggup lagi untuk menggenggam ponsel serta merangkai kata untukmu.

Dan sekarang aku menyelesaikannya sembari mengawasimu yang sedang tertidur di sampingku.

Masih banyak yang ingin kuceritakan padamu malam itu nak, saat aku menunggu bukaan yang tak
kunjung meningkat. Aku pikir menulis surat ini bisa mengisi waktu luangku, tapi nyatanya tidak berhasil, semakin lama aku semakin gelisah, menatap jarum jam yang geraknya seakan tertahan sehingga terasa begitu lamban. Aku ingin segera melahirkanmu tapi ternyata prosesnya tidak secepat
yang kuinginkan.
Malam itu aku tidak bisa melahirkanmu meski sudah didorong dengan obat induksi. Paginya, tak ada kemajuan dan dokter memutuskan memberi cairan induksi lewat infus, dan kembali menunggu reaksimu. Ah tapi cairan itu juga tak mempan mendorongmu keluar dari rahimku hingga sore hari dokter menyarankan aku operasi caesar.

"Bukaannya tidak meningkat masih bertahan di bukaan satu sedangkan air ketubanmu sudah semakin berkurang, kita operasi saja ya," ujar dokter.

Apa boleh dikata, alasan dokter cukup logis apalagi aku tahu bahwa lehermu masih terlilit tali pusar,
jadi bagiku yang awam akan proses persalinan mungkin itu juga yang menyebabkan kau sulit
bergerak turun.

Para perawat kemudian sibuk menyiapkan perlengkapan operasi, memasang kateter di saluran kencingku, mengecek jantungku dan jantungmu, mengganti infus dan pakaianku. Seketika itu air mataku menetes. Aku menangis karena takut terhadap proses operasi dan kegagalan melahirkanmu secara normal. Sejak awal aku ingin persalinan secara normal, selama hamil aku menyiapkan diri untuk itu. Tetapi semua berubah di detik-detik terakhir.

***
Nak, kata orang melahirkan secara caesar itu lebih enak dibanding normal, malah ada yang suka meremehkan mereka yang melahirkan lewat operasi karena dinilai tidak sakit, ataubelum merasakan
melahirkan yang sesungguhnya. Tetapi persalinan ini juga sebuah perjuangan, melalui cara apapun
melahirkan seorang bayi adalah pertaruhan dan perjuangan seorang ibu.


Tangismu meledak ketika dokter mengangkatmu dari rahimku, kemudian bidan segera membersihkan darah yang masih menempel di tubuh mungilmu lalu membawanya sebentar ke diriku yang masih menggigil di meja operasi.

"Ini anaknya bu, silakan dicium dulu,"ujar bidan sembari menggendongmu.

Ciuman pertamaku mendarat di pipi merahmu, lalu ada air mata bahagia menetes di pipiku.




***
Anakku sayang,
Kau tahu, aku harus kembali menjalani operasi  sepuluh hari setelah kau lahir. Pembekuan darahku ternyata tidak sempurna, ada penggumpulan darah di atas rahimku yang semestinya keluar setelah melahirkanmu. Tubuhku rasanya sungguh tak berdaya nak saat dokter bilang darah itu harus disedot dan caranya melalui operasi.

Sakit dan trauma pasca melahirkanmu belum hilang dan aku harus mengulanginya lagi, hanya semangat dan dukungan dari keluarga serta abahmu yang tercinta menjadi penguatku, dan aku pasrah. Aku hanya ingin masalah itu segera dituntaskan supaya aku bisa sehat dan fokus merawatmu.





***
Tak lama lagi usiamu genap tiga bulan, sekarang jarum jam seperti berlari kencang hingga aku merasa jatah cuti kerja tiga bulan itu kurang. Akan ada perubahan rutinitas saat aku mulai kembali bekerja, ah pasti aku akan merindukanmu walau hanya beberapa jam tidak bersama.

Sabang Dipa Maulana, tumbuhlah jadi anak yang sehat, pintar dan baik hati ya. Tanda lahirmu hanya satu, tahi lalat di kaki kirimu. Kata orang tanda itu berarti kau bakal sering melakukan perjalanan jauh.

Aku doakan kelak kau bisa berkelana keliling dunia, menginjakkan kakimu dari Sabang hingga Merauke serta bertandang ke Afrika, benua impian kekasihku. Pasti abahmu akan bangga dan bahagia mesti nanti kau hanya mengirimkan postcard bergambar jerapah dari sana, hehehe.

Aku mungkin tidak bisa menjadi ibu yang sempurna buatmu, tetapi percayalah hingga detik ini aku selalu berupaya menjadi lebih baik untukmu.


Simpan surat ini dan bacalah kembali jika kau rindu aku.





Peluk cium
Ibu.

Senin, 20 Oktober 2014

Tentang Ketakutan Dalam Napasku


Pagi ini ketakutanku terhadap sesuatu bertambah satu, yaitu udara yang kuhirup.

Rasanya setiap orang mendambakan hal ini pada saat bangun tidur; menghirup udara sejuk dan segar yang hanya bisa ditemui pada pagi hari. Pagi memang selalu menyajikan sesuatu yang membuat kita bersemangat.

Tapi tidak bagiku hari ini alih--alih duduk di teras untuk mendapat siraman sinar matahari dan udara bersih, aku kembali menutup pintu kamar. Asap sudah menjalar hingga ke dalam rumah. Ini lebih mengerikan dari mimpi buruk.

Asap itu bukan hasil pesta barbeque atau bakar sampah tetangga sebelah, melainkan hasil pembakaran lahan di sejumlah daerah di Sumatra Selatan dengan luasan yang mencapai ratusan ribu hektare. Data terakhir yang diucap gubernur, ada 7.000 ha lahan gambut yang terbakar.

Keluhan terhadap asap ini bermunculan dimana-mana, terutama di media sosial. Bahkan selama aku keluar kota dan membuka path, facebook, twitter, mayoritas teman-temanku mengeluhkan soal asap. Dari kicauan dan status mereka itu pula rasanya kemarin aku berat sekali pulang ke Palembang.

Perjalanan dinas kemarin memang sudah kunantikan, setidaknya itu menjadi kesempatanku untuk melarikan diri sejenak dari kepungan asap yang membuat hidupku seolah mencekam.

Seumur hidupku, baru dua kali aku merasa ingin begitu kekuar dari kota ini, pertama saat lulus SMA, kedua saat kabut asap tiba.

Semenjak kepulanganku tiga tahun lalu sehabis merantau, aku masih bisa mengatasi kejenuhan atas kota ini berupa ketiadaan tempat untuk dituju; tidak ada ruang publik, tidak ada toko buku yang nyaman, tidak ada hiburan alternatif selain yang tersaji di mal-mal. Semuanya bisa kulalui, tapi untuk kabut asap tahun ini betul-betul membuatku putus asa. Bepergian keluar kota selama lima hari seperti pelipur lara, dan dari perjalananku itu, momen yang paling berkesan adalah udara pagi Bandung, andai saja aku bisa menyimpannya dan kuhisap lagi setiba di kota kelahiranku.

Mungkin sebagian orang akan menilai ketakutanku berlebihan, tetapi memang aku patut bersikap seperti itu karena aku masuk dalam kategori kelompok yang paling berisiko terhadap kabut asap, aku sedang mengandung.

Aku tidak rela bayi di dalam kandunganku menderita dan terkena efek buruk dari asap yang kuhirup. Dan siapa yang akan bertanggung jawab jika bayiku idiot akibat kabut asap yang sudah dua bulan ini menyelimuti kami? Negara? Pemerintah? Perusahaan pembakar lahan? Dalam situasi ini aku sungguh tidak berdaya.

**
Kabut asap sudah menjadi semacam ritual tahunan di Sumsel maupun provinsi lain di Pulau Sumatra dan Kalimantan akibat pembakaran lahan dan hutan. Biasanya titik api mulai menyebar pada bulan September tepat saat puncak musim kemarau.
Semenjak aku kembali ke kota kelahiranku ini pada 2012 lalu, ini adalah kali ketiga kabut asap terjadi. Tetapi berdasarkan data Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengendalian (UPTD) Kebakaran Hutan dan Lahan Dinas Kehutanan Sumsel,peningkatan hot spot yang signifikan setiap September itu telah berlangsung sejak 1997 lalu.
 
Ditulis saat bangun tidur pada Senin (13/10) dan merasa dunia ini begitu suram.

Rabu, 14 Mei 2014

Aku Ingin Jatuh Cinta



Tolong buat aku jatuh cinta lagi karena belum pernah aku resah seperti malam ini, Sayang…

Keresahan yang timbul itu sebetulnya sudah sepekan terakhir mengendap di pikiranku. Dia terbentuk karena realitas yang berserakan di hadapanku, muncul di meja kerja, meliput kegiatan pemerintahan, saat menonton tayangan televisi, membaca koran, memantau harga bahan bangunan, bahkan diam-diam berkumpul di alam tidurku.

Aku ingin jatuh cinta lagi, kepadamu.

Supaya aku lupa terhadap pikiran siapa nanti yang akan memimpin negara ini. Agar aku tak dongkol ketika mendengar jawaban normatif, sampah, basi dari pemerintah soal jalan yang rusak, listrik yang sering padam, hutan yang terus ditelanjangi, tambang yang menganga.
Lagi pula, kata sahabatku, jatuh cinta adalah obat mujarab untuk menjadi nyata.

Buat aku jatuh cinta lagi, suamiku.

Agar aku bisa melupakan persoalan uang dan harga barang—barang yang membuatku menghela napas panjang, agar aku tak risau memikirkan hutang.

Aku perlu jatuh cinta lagi, sayang.
Sebagai pengingat bahwa aku tak sendiri menghadapi dunia dan peradabannya yang semakin lama semakin menyebalkan. 

Dan aku tahu, hanya kau yang mampu membuatku jatuh cinta lagi.

Ditulis setelah selesai membaca 1984, menonton berita, dan bekerja.




Kamis, 06 Februari 2014

Tentang Lomba, Berita dan Opini



Source here: http://bit.ly/1fyBADL

"It's not news but views."

Seorang teman kuliah memberi jawaban singkat seperti di atas terhadap pertanyaan yang saya ajukan melalui status facebook.

Saya bertanya mengenai kategori  tulisan yang ada di halaman opini media. Pertanyaan itu menjadi status terbaru saya setelah sekian lama merasa tak perlu mengungkap apa yang saya pikirkan lewat jejaring sosial itu.

Semua berawal dari pengumuman lomba menulis bagi wartawan yang diselenggarakan oleh salah satu BUMN yang berkantor pusat di Palembang semalam, Selasa (4/2).

Lomba karya berita itu cukup menarik bagi jurnalis karena hadiah bagi pemenang tergolong besar, cukup untuk jalan-jalan atau beli sepeda motor atau beli gadget terkini. Tentu saja pengumuman siapa pemenangnya sangat dinanti.

Karena lomba ini menarik, naskah yang masuk ke panitia penyelenggara pun banyak, lebih dari 60 naskah. Hal itu juga menandakan persaingan untuk dipilih juri menjadi sengit. Saya yakin dewan juri pasti berdebat panjang untuk memilih mana naskah yang layak dan memenuhi kriteria sebagai juara.

Kriteria lomba yang utama adalah karya berupa artikel/feature (berita khas) yang sesuai tema dan sub tema lomba. Sementara untuk karya foto adalah foto jurnalistik.

Saat acara pengumuman lomba semalam, panitia menayangkan karya-karya cetak dan foto yang masuk sebagai nominator melalui layar proyektor.

Karya foto yang masuk sebagai nominasi sudah sesuai kriteria utama, yaitu foto jurnalistik. Namun, saat panitia menayangkan nominasi karya tulis, beberapa wartawan yang menghadiri acara itu jadi kaget, termasuk saya.

Ada 6 karya yang menjadi nominasi, dua di antaranya berupa karya opini (bukan berita) yang ditulis wartawan dan terbit di media tempat mereka bekerja. Lebih aneh dan mengejutkan lagi, karya yang tidak sesuai kriteria utama itu, malah diganjar penghargaan juara.

Saya mengambil jurusan ilmu jurnalistik saat duduk di bangku kuliah. Selama semester awal, dosen jurusan memberi pemahaman dasar terkait produk atau karya jurnalistik. Juga, karya non jurnalistik yang terbit di media massa.

Pemahaman dasar yang diberi dosen-dosen saya ada dua produk utama media massa, yaitu berita dan opini. Berita banyak jenisnya, mulai dari berita langsung (straight news), berita khas (feature atau sering disebut artikel dan tulisan), sampai berita mendalam (in depth news).

Sementara untuk opini terdapat tajuk rencana atau editorial yang merupakan pandangan media massa itu terhadap suatu peristiwa, dan esai atau opini yang biasanya ditulis oleh pengamat, mahasiswa dan kalangan akademik..

Perbedaan dasar dari kedua produk itu sederhana, berita ditulis berdasarkan hasil wawancara wartawan dengan narasumber/sumber terkait suatu peristiwa. Sementara opini ditulis berdasarkan buah pikir si penulis dan tak perlu memenuhi kriteria penulisan berita, seperti 5 W+1H.

Ah tetapi saya rasa tak perlu juga kuliah bertahun-tahun untuk memahami pengertian berita dan opini itu. Saat terjun ke dunia kerja di sebuah media lokal, materi jurnalistik dasar itu diberikan oleh kantor dalam waktu tak lebih dari seminggu.  Menurut saya, mayoritas industri media melakukan hal serupa, memberi pengenalan terhadap bagaimana dan apa yang dihasilkan dari kerja wartawan.

Setelah saya melihat tulisan salah satu pemenang lomba, saya menilai karya itu sebuah opini. Ini bukan hanya persoalan tulisan itu berada di halaman opini tetapi lebih mendasar, wujud dan esensi tulisan tersebut. Tidak ada kutipan hasil wawancara dengan narasumber, hanya pemaparan data yang di era serba cepat dan mudah ini bisa didapat lewat kotak pencarian google untuk mendukung pendapat pribadi jurnalis. Toh, bukannya kerja wartawan itu saat meliput suatu kejadian atau peristiwa adalah wawancara?

***
Saya sudah menanyakan kejanggalan terkait karya yang menang lomba kepada panitia maupun dewan juri.

Singkatnya, panitia mengatakan kapasitas untuk menjawab pertanyaan mengapa karya opini yang menang ada di dewan juri. Panitia tidak punya suara untuk menilainya.

Dewan juri lomba ini terdiri dari berbagai profesi, meliputi perwakilan perusahaan BUMN si penyedia acara, perwakilan Kementerian BUMN, guru besar bahasa dan wartawan senior.

Sementara salah satu dewan juri beralasan mereka menerima naskah dalam bentuk Microsoft Words tanpa tahu tulisan itu terbit di halaman mana, nama wartawannya siapa dan dari media mana. Hal itu untuk menjaga objektivitas dewan juri dalam menilai karya.

Dari obrolan yang beberapa kali terputus karena gangguan sinyal handphone, saya belum menangkap mengapa tulisan opini bisa menjadi nominasi dan terpilih?  Bukankah kriteria utama lomba ini adalah naskah berupa berita khas? Sehingga mengapa karya yang menang sama sekali tidak memuat unsur dan nilai berita?

Saya tahu dan menghargai keputusan dewan juri, mungkin ada pertimbangan-pertimbangan lain yang belum saya pahami sehingga kedua karya opini itu menang. Tulisan saya ini pun bukan untuk menggugat keputusan dewan juri. Lagi pula toh, biasanya dalam ketentuan lomba memuat keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat.

Saya hanya menyayangkan ajang kompetisi menulis untuk jurnalis yang bergengsi ini ditutup dengan kejanggalan dan meninggalkan kesan mengecewakan untuk sebagian peserta. Semoga di masa yang datang ada lomba-lomba karya jurnalistik lainnya di Palembang yang betul-betul mengapresiasi berita, bukan opini pun advetorial. Salam damai.

Palembang, Februari 2014

Kamis, 05 Desember 2013

Pada Akhirnya Semua Perkara Waktu

Baru kali ini aku berkendara dengan kecepatan 40 kilometer per jam saat jalan begitu lengang. Aku sengaja mengemudikan mobil perlahan untuk mengulur waktu agar tiba di kantormu paling tidak pukul 23.30.

Sepanjang perjalanan yang pelan itu pikiranku kemana-mana, kadang dia berlari kencang menuju masa lalu kadang dia melompat ke pengandaian masa depan. Tetapi sialnya jarum jam malah terasa berjalan selambat kendaraanku.

 Kejutan. Aku ingin ada kejutan di hari ulang tahunmu.

Bibi di rumah mamaku sempat berujar aku seperti sedang pacaran saja denganmu karena melihat perlakuanku sibuk membeli kado dan kue ulang tahun kemarin.

Mungkin, dia tidak pernah melihat hal yang sama dilakukan oleh kedua kakakku terhadap suaminya. Aku hanya menanggapinya dengan senyum sembari tertawa ringan.

 Siapa yang tidak ingin pernikahannya selalu romantis dan tidak menjemukan? Dan menurutku kejutan adalah salah satu hal yang memberi nuansa tersebut. Apalagi kejutan itu bisa dihadirkan saat momen spesial, seperti ulang tahun. Kejutan semalam yang kuberi di kantormu kuharap bisa membuatmu merasa istimewa.

 ***

Aku memberimu hadiah jam tangan pada hari ulang tahunmu, kau bilang seumur-umur hidupmu kau tidak pernah membeli jam tangan. Selalu saja pemberian orang, di masa kecil kau mengenakan jam tangan pemberian bibimu.

Saat dewasa, Abah yang memberikanmu jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganmu selama beberapa tahun terakhir, sampai baterainya habis dan kita malas menggantinya di tukang reparasi jam.

Reaksimu terlihat campur aduk saat membuka kotak jam tangan itu. Di satu sisi kau senang punya jam tangan baru, tetapi raut mukamu juga menunjukkan kekhawatiran akan harga jam itu. Dan kau langsung termanga ketika aku sebut berapa harganya lantas bernapas lega saat kuakhiri dengan ucapan, tenang pakai kartu kredit. Hehehe.

Aku tahu kau butuh jam tangan. Apalagi di kebon, tempat kau memerah tenaga mengurus peternakan ayam, tidak ada penunjuk waktu. Keluarga si anak kandang yang menghuni areal peternakan itu tidak punya satu pun penanda waktu di bilik mereka.

Aku sempat kaget saat si anak kandang meminta jam dinding untuk mendukung pekerjaan utamanya, memberi makan ayam setiap beberapa jam sekali.

 Selamat ulang tahun, Prawira Maulana sayang. Aku percaya semakin tua usia mu semakin matang kau menjalani hidup. Aku juga percaya keringat yang kau peras saat ini tak akan sia-sia. Karena kau lahir menyandang rasi bintang Sagitarius, si pemanah yang pantang menyerah untuk mendapatkan bidikannya.

Dan pada akhirnya semua perkara waktu,termasuk meraih kesuksesan yang kau bidik, saya cinta kamu.

Palembang, Desember 2013

Jumat, 15 November 2013

Menarik Garis Di Ujung Bibir

Kau bilang hari ini aku pelit senyum.
Bahkan sejak aku keluar dari pintu kedatangan di bandara tadi pagi, menurut mu, hanya rengut-an yang ada di mukaku.

Rengut-an. Hal yang paling tidak kau suka dan seringkali menjadi biang pertengkaran kita. Sialnya, istrimu ini memang hobi merengut alias cemberut jika suasana hatinya lagi buruk atau kata orang lagi "sensi". Apalagi, perlu kau ingat, aku termasuk golongan Cancerian yang sangat tenar dengan karakter sensitif. Sehingga perubahan mood dari semula bagus menjadi buruk itu cepat terjadi.

Ada banyak hal (kecil) yang sering menjungkirbalikkan mood dan sukses membuatku cemberut di rumah tangga kita, terkadang hal itu berasal dari sikapmu.

Seperti, bangun siang, banyak tidur, lupa menutup pintu, tidak membuang air cucian piring, tidak menggunakan kantong plastik ketika membuang sampah di tempatnya, tidak merapikan mesin cuci sehabis memakainya, seringkali pula tidak mengembalikan barang yang kau ambil ke tempat semula.

Terkadang, aku tidak mengeluh terhadap hal-hal yang kau lakukan itu. Aku biasa memilih diam. Itu juga yang tidak kau suka karena kau tahu setelahnya diamku menghasilkan rengut-an. Bom waktu mulai berjalan, tak lama setelahnya ada ledakan amarah.

***
Tetapi aku tahu, cepat atau lambat kau bisa memperbaiki segalanya. Meredam emosimu, menghapus rengutanku dan menggantinya jadi senyuman yang selalu ingin kau lihat ada di wajahku. Setelahnya kita mulai mengisi ruang dengan canda-tawa dan tak lupa pelukan.

Masalah memang pasti akan muncul dalam rumah tangga, tinggal bagaimana cara kita melewatinya. Aku merasa beruntung memiliki teman hidup yang selalu bisa mengajakku menyelesaikan masalah-masalah itu dengan sikap dewasa. Selalu ada kehangatan dan tarikan di ujung bibirku seusai bertengkar.



"Cinta itu sengit, kita...tarik-menarik." ---Indie Art Wedding.